Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Sunday, December 22, 2013

Sejarah Hari Ibu 22 Desember

Sejarah Hari Ibu 22 Desember, berikut adalah sejarah 22 desember diperingati sebagai hari ibu.


Sejarah Hari Ibu berawal saat para pejuang wanita mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22 s/d 25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres Perempuan Indonesia I dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan yang terdiri dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari Kongres Perempuan Indonesia I salah satunya membentuk Kongres Perempuan yang disebut dengan Kongres Wanita Indonesia.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Presiden Soekarno menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.

Thursday, August 22, 2013

Keputusan Sidang PPKI 22 Agustus 1945

Keputusan Sidang PPKI 22 Agustus 1945, sidang ketiga PPKI pada tanggal 22 Agustus 1945 dilaksanakan setelah melakukan sidang pertama tanggal 18 Agustus 1945 dan sidang kedua tanggal 19 Agustus 1945.

Keputusan Sidang PPKI 22 Agustus 1945

Adapun hasil sidang PPKI tanggal 22 Agustus 1945 adalah:
1. Membentuk Komite Nasional Indonesia;
2. Membentuk Partai Nasional Indonesia;
3. Membentuk Badan Keamanan Rakyat.
Anggota BKR adalah himpunan bekas anggota PETA, Heiho, Seinendan, Keibodan, dll yang dibentuk dengan tujuan agar tidak memancing permusuhan dengan tentara asing di Indonesia.

Monday, August 19, 2013

Sidang Kedua PPKI 19 Agustus 1945

Setelah Sidang Pertama PPKI tanggal 18 Agustus 1945, maka PPKI mengadakan sidang kedua, Sidang Kedua PPKI 19 Agustus 1945, hasil sidang PPKI tanggal 19 Agustus 1945 menghasilkan:
1. Membentuk 12 Kementerian dan 4 Menteri Negara
2. Membentuk Pemerintahan Daerah
Indonesia dibagi menjadi 8 provinsi yang dipimpin oleh seorang gubernur.

Adapun nama provinsi dan nama gubernur yang dihasilkan dalan keputusan sidang kedua PPKI tanggal 19 Agustus 1945 adalah:

Sidang Kedua PPKI 19 Agustus 1945

Sunday, August 18, 2013

Hasil Sidang PPKI 18 Agustus 1945

Hasil Sidang PPKI 18 Agustus 1945, hasil sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945 menghasilkan:

Sidang PPKI 18 Agustus 1945

1. Mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945
Sebelum disahkan, terdapat perubahan dalam UUD 1945, antara lain:
a. Kata Muqaddimah diubah menjadi Pembukaan.
b. Pada pembukaan alenia keempat anak kalimat
Ketuhanan, dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya diubah menjadi
Ketuhanan Yang Maha Esa. 
c. Pada pembukaan alenia keempat anak kalimat
Menurut kemanusiaan yang adil dan beradab diubah menjadi
Kemanusiaan yang adil dan beradab.
d. Pada Pasal 6 Ayat (1) yang semula berbunyi Presiden ialah orang Indonesia Asli dan beragama Islam diubah menjadi
Presiden adalah orang Indonesia Asli.

2. Memilih dan mengangkat Presiden dan Wakil Presiden
Pemilihan Presiden dan Wakil Presidan dilakukan secara aklamasi atas usul dari Otto Iskandardinata yang mengusulkan agar Ir. Soekarno menjadi Presiden dan Moh. Hatta menjadi Wakil Presiden.

3. Tugas Presiden sementara dibantu oleh Komite Nasional sebelum dibentuknya MPR dan DPR

Saturday, August 17, 2013

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Peristiwa Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 dibacakan Ir. Soekarno didampingi Drs. Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta Pusat. Berikut adalah kronologi sejarah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945.

6 Agustus 1945 Hiroshima, Jepang dijatuhi bom atom.

7 Agustus 1945 Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), atau “Dokuritsu Junbi Cosakai”, berubah nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau “Dokuritsu Junbi Inkai”.

9 Agustus 1945 Nagasaki, Jepang dijatuhi bom atom menyebabkan Jepang menyerah tanpa syarat. Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat ke Dalat untuk bertemu Marsekal Terauchi.

10 Agustus 1945, Sutan Syahrir mengetahui berita Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.

12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat bahwa pemerintah Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.

14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu sehingga kemerdekaan yang akan diberikan Jepang menjadi batal. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar tersebut. Golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tetapi golongan tua tidak ingin tergesa gesa.

15 Agustus 1945 tekanan yang dilancarkan para pemuda menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia semakin memuncak. Para pemuda pejuang, antara lain Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana kehilangan kesabaran.

16 Agustus 1945. Dini hari, Bersama Shodanco Singgih, seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok dengan tujuan agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Para pemuda meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta.

17 Agustus 1945. Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 WIB. Teks proklamasi ditulis di rumah laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol Nomor 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno di ruang makan. B.M Diah, Sayuti Melik, Sukarni, dan Soediro hadir di ruang depan. Sukarni mengusulkan teks proklamasi ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Setelah konsep disepakati, Sajuti mengetik naskah tersebut. Rencananya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada, tetapi karena pertimbangan faktor keamanan maka dipindahkan ke kediaman Soekarno di jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan teks naskah proklamasi oleh Soekarno dan dilanjutkan pidato singkat tanpa teks. Trimurti diminta untuk mengibarkan bendera tetapi beliau menolak karena pengibaran bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit sehingga ditunjuklah Latief Hendraningrat yang merupakan prajurit PETA dan dibantu oleh Soehoed. Setelah upacara selesai, anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S. Brata datang karena mereka tidak mengetahui perubahan tempat dari Lapangan Ikada ke Jalan Pegangsaan Timur 56. Mereka meminta Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, tetapi ditolak. (Adhitya Nugraha Novianta)

Sunday, April 21, 2013

Raden Ajeng Kartini

Profil, Biodata, Sejarah Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini. Memperingati Hari Kartini 21 April.

Raden Ajeng Kartini

Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879 wafat di Rembang, 17 September 1904. Raden Ajeng Kartini adalah putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang bupati Jepara.

Raden Ajeng Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibu Raden Ajeng Kartini bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, guru agama di Telukawur, Jepara.
Ayah Raden Ajeng Kartini awalnya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial mengharuskan seorang bupati memiliki istri seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukan bangsawan tinggi maka ayah Raden Ajeng Kartini menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan Raja Madura. Setelah perkawinan tersebut, maka ayah Raden Ajeng Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Raden Ajeng Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Raden Ajeng Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Raden Ajeng Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pandai dalam bidang bahasa. Raden Ajeng Kartini bersekolah di ELS (Europese Lagere School) sehingga Raden Ajeng Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, Raden Ajeng Kartini harus tinggal di rumah karena dipingit.

Raden Ajeng Kartini belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Antara lain Rosa Abendanon. Raden Ajeng Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi.

Raden Ajeng Kartini menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Raden Ajeng Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang.

Raden Ajeng Kartini melahirkan putra yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat, tanggal 13 September 1904. Beberapa hari setelah melahirkan, 17 September 1904, Raden Ajeng Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Raden Ajeng Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Setelah Raden Ajeng Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan Raden Ajeng Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Raden Ajeng Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Raden Ajeng Kartini. Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya. Surat-surat Raden Ajeng Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers.

Pemikiran-pemikiran Raden Ajeng Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain lagu Ibu Kita Kartini yang diciptakan oleh W.R. Soepratman.

Saturday, November 10, 2012

Sejarah Hari Pahlawan

Sejarah Hari Pahlawan untuk mengenang peristiwa sejarah pertempuran 10 November 1945 Surabaya. Sejarah Hari Pahlawan dimulai ketika tentara Inggris yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) mendarat di Jakarta pada tanggal 15 September 1945 dan mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945 dengan membawa misi untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan tawanan perang yang ditahan Jepang, dan memulangkan tentara Jepang. Disamping misi tersebut, tentara Inggris juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan. Pendaratan Inggris tersebut di boncengi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration).

Sejarah Hari Pahlawan

Tentara Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada tanggal 18 September 1945, pukul 21.00 WIB, mengibarkan bendera Belanda di Hotel Yamato atau Yamato Hoteru (Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

Para pemuda menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia karena berdasarkan maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 ditetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan di seluruh wilayah Indonesia.

Keesokan harinya massa berkumpul di Hotel Yamato, Residen Soedirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono untuk berunding dengan Mr. Ploegman agar bendera Belanda segera diturunkan. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan tidak mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, Sidik juga gugur ditempak Tentara Belanda yang sedang berjaga, sedangkan Soedirman dan Hariyono berhasil meloloskan diri. Beberapa pemuda naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan ikut naik ke atas hotel bersama Koesno Wibowo untuk menurunkan bendera Belanda, merobek bagian biru, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.

Setelah peristiwa di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 terjadilah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris. Serangan tersebut memakan korban jiwa di kedua belah pihak, sehingga Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan kepada Presiden Sukarno agar meredakan situasi.

Setelah penandatanganan gencatan senjata antara pihak Indonesia dan Inggris dilakukan tanggal 29 Oktober 1945, keadaan mereda, Tetapi masih terjadi insiden antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Insiden tersebut memuncak ketika terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30 WIB. Brigadir Jenderal Mallaby tewas oleh tembakan pistol seorang pemuda dan mobil yang ditumpangi terkena ledakan granat sehingga jenazah Mallaby sulit dikenali.

Peristiwa terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby membuat Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum agar semua orang Indonesia yang bersenjata harus meletakkan senjatanya di tempat yang telah ditentukan dan menyerahkan diri dengan cara mengangkat tangan ke atas. Batas ultimatum tersebut adalah tanggal 10 November 1945 pukul 6.00 WIB tetapi ultimatum tersebut dianggap sebagai penghinaan sehingga pihak Indonesia menolak ultimatum.

Pada 10 November 1945 pagi, tentara Inggris melancarkan serangan besar dan membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut, darat dan udara. Pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk menjadi korban.

Para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo terus mengobarkan semangat perlawanan pemuda Surabaya. Pemuka agama seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah dan Kyai dari berbagai pondok pesantren juga turut serta dengan mengerahkan para santrinya. Pertempuran ini mencapai waktu tiga minggu, sebelum akhirnya Surabaya jatuh di tangan pihak Inggris.

Sekitar 6,000 - 16,000 pejuang Indonesia gugur dan 200,000 rakyat sipil mengungsi. Sedangkan korban dari pasukan Inggris sekitar 600 - 2000 tentara.

Saturday, May 19, 2012

Sejarah Kebangkitan Nasional

Sejarah Kebangkitan Nasional atau Hari Kebangkitan Nasional dimulai dengan berdirinya Boedi Oetomo yaitu pada tanggal 20 Mei 1908 sehingga setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional

Sejarah Kebangkitan Nasional

Boedi Oetomo didirikan oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji. Boedi Oetomo digagas Dr. Wahidin Sudirohusodo. Pada awalnya Boedi Oetomo bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan bukan bersifat politik. Boedi Oetomo menjadi awal gerakan yang bertujuan kemerdekaan Indonesia.

Boedi Oetomo beberapa kali mengalami pergantian pimpinan. Sebagian besar berasal dari bangsawan, seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo mantan Bupati Karanganyar dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Pakualaman.

Boedi Oetomo mengalami perkembangan penting sewaktu dipimpin Pangeran Ario Noto Dirodjo. Pada waktu itu, Douwes Dekker mewujudkan kata "politik". Berkat pengaruh tersebut pengertian "tanah air Indonesia" semakin diterima sehingga muncul Indische Partij. Pada masa itu juga muncul Sarekat Islam. Sarekat Islam pada awalnya sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, tetapi Sarekat Dagang Islam diubah oleh Tjokroaminoto menjadi Sarekat Islam. Sarekat Islam bertujuan mempersatukan orang Indonesia.